
Setelah membaca baliho di sudut-sudut jalan tentang himbauan bupati MZA Djalal perihal pemberantasan DBD dengan 3M beberapa hari ini, entah kenapa kalimat perintah Buanglah SAMPAH Pada Tempatnya !!! yang sudah terdengar biasa ditelinga itu berkesan beda dalam ruang pikirku. Tapi anehnya persepsi yang muncul di otakku yang berkapasitas kecil tentang Buanglah SAMPAH Pada Tempatnya !!! tidak ada hubungannya sama sekali dengan pemberantasan DBD ataupun iklan masyarakat yang disampaikan oleh Dinas Kebersihan Kota, melainkan lebih kepada sesuatu yang aku anggap SAMPAH dalam hidupku.
Sebagaimana umumnya, sampah adalah sesuatu yang sudah tidak ada gunanya dan harus dibuang pada tempatnya agar tercipta keadaan yang bersih dan kondusif. Tapi dalam konteks Buanglah SAMPAH Pada Tempatnya !!! versiku, aku mendeskripsikan sampah berbeda dengan pendeskripsian sampah versi orang kebanyakan. Aku membayangkan sampah itu adalah sebuah kenangan buruk yang menyebabkan adanya keadaan tidak kondusif dalam kehidupanku. Yaa, SAMPAH bukanlah benda, SAMPAH bukanlah manusia, SAMPAH adalah KENANGAN, kenangan buruk lebih tepatnya, yang dibuang sayang tapi disimpan menyesakkan, tapi buanglah saja dia pada ‘tempat’nya.
Perjumpaanku dengan Anto di Laboratorium Tugas Akhir adalah starting point kenapa kalimat biasa Buanglah SAMPAH Pada Tempatnya !!! menjelma tidak biasa dipikiranku. Beberapa hari sebelumnya aku merasa sangat merindukannya, merindukan saat-saat bersamanya di lapangan basket sebagai sebuah pilihan tempat membolos yang paling asyik, merindukan saat-saat bersamanya di lapangan basket sebagai tempat yang menunjukkan eksistensi hobi kami, merindukan saat-saat bersamanya di lapangan basket dengan three point shoot dan sms ‘gelap’ku untuk seseorang yang menjadi salah satu SAMPAH dalam hidupku. Anto bukanlah subjek ataupun objek, dia hanyalah pelengkap, hanyalah pemeran figuran, orang yang ada saat aku menjalani SAMPAH-SAMPAH itu. Dan aku teringat pada sang SAMPAH yang telah kubuang saat kami berjalan beriringan menuruni tangga sambil melihat lapangan basket yang kini lebih eksis sebagai tempat parkiran.
Teringat SAMPAH, ada segurat luka yang kembali terbuka, melihat Anto, aku kemudian tersenyum. Aku senang bertemu dengannya. Karena itu jarang sekali terjadi meskipun kami masih satu kota. Kami tak pernah lagi menghabiskan waktu di lapangan basket dan semakin sibuk dengan diri kami sendiri-sendiri. Aku dengan skripsi beserta masalahku, dan dia dengan pacar anehnya. Pacar aneh dan sederet kisahnya dengan wanita hingga skripsi tak pernah lagi dijamahnya. Aku tersenyum melihatnya, aku senang bertemu dengannya, untuk kemudian aku tertawa karena ahli matematika disebelahku itu ternyata juga belum lulus, gara-gara berkutat dengan cinta pula. Haha.. Tragis !
Anto adalah satu-satunya cowok bertalenta matematika diangkatanku. Kehebatan matematikanya bukan karena dia rajin duduk di kursi besi lipat ruang kuliah kami, tapi karena sudah menjadi paket kelahirannya di dunia. Suatu waktu aku pernah bertanya ”Ant, rumus deret aritmatika pie? Aku lali”, dengan sigap dia menuliskan rumus deret aritmatika lengkap beserta deret geometrinya untuk macam-macam keadaan, perfect, tak ada bedanya jika aku bandingkan dengan rumus-rumus yang ada dibuku bahkan untuk runtutannya. Differensial dan integral tidak banyak memakan waktu jika dia yang mengerjakan, hasilnyapun sempurna. Dengan script program Turbo Pascalnya dia bisa mendesain sebuah meja antik saat teman-temannya hanya mampu membuat persegi berkaki. Geometri adalah bidang yang paling disukainya, sama sepertiku, karenanya dia memilih menekuni bidang itu untuk skripsinya disaat aku lebih memilih mengkhianati bidang itu dengan skripsi matematika terapan dan Matlab ini.
Kemarin aku senang bertemu dengannya. Anto yang sama kasarnya denganku, yang sama banci fotonya denganku, yang mengajakku keluar kelas saat bosan melanda, yang selalu aku temani bermain basket dan meminjamkan hapenya padaku, yang menjadi rivalku di depan Pak Rusli saat kuliah persamaan differensial (tapi aku yang menang, karena aku yang dijadikan asisten, yeee!!), yang sama-sama belum lulus, yang sama-sama menjadi “ndundus”-nya 2004. Ndundus untuk keliaran kami, ndundus untuk kenarsisan kami, ndundus untuk talenta matematika kami, ndundus untuk panggilan sayang kami.
Kemarin aku senang bertemu dengannya. Meskipun sangat menyayangkan keengganannya mengerjakan skripsi, aku tahu Anto sedang dalam perjalanan panjang menata hati karena kisah percintaannya yang rumit itu. Baginya, skripsi bukan hanya tentang pemenuhan kewajiban sebagai anak dan sebagai mahasiswa, bukan tentang menyelesaikan persamaan matematika, tapi juga tentang perjuangannya akan cinta, pemaknaan pada hidup dengan partisi-partisi prioritasnya.
Kemarin aku senang bertemu dengannya. Setidaknya aku semakin sadar kalau tiap-tiap orang punya masalahnya sendiri-sendiri, dibandingkan, bukan untuk dicari siapa yang lebih baik tapi untuk dipelajari celah-celahnya dan menemukan jalan terbaik. Sebuah apology klise. Seandainya kehidupan cintanya ‘baik’, aku yakin Anto akan bersemangat mengerjakan skripsinya, aku tahu dia. Tapi semua orang juga tahu kalo terpisah jarak dengan orang yang sangat dicintai dan menjadi semangatnya adalah hal berat. Terpisah hati itu menyakitkan. Berbeda hati itu meluluhlantakkan. Dan Anto tidak punya ruang kondusif untuk mengerjakan skripsi, dia hanya punya ruangan yang berat, menyakitkan dan meluluhlantakkan itu.
Aku senang bertemu dengannya. Bukan hanya karena aku bisa memberinya buah rambutan kesukaannya sebagaimana biasa, tapi karena melihat Anto membuatku belajar untuk tidak menyesali keputusanku yang telah membuang SAMPAH pada tempatnya. SAMPAH yang aku lihat di lapangan basket kemarin ketika aku dan Anto beriringan menuruni tangga. Sebuah keputusan untuk berusaha menciptakan ruangan kondusif, itu harapanku. Ruangan untuk skripsiku, ruangan untuk masa depanku.
Untuk Anto,
Ndus, takhlukkan segala rasa itu, takhlukkan geometri,takhlukkan turbo pascal, buang SAMPAH-SAMPAH itu pada tempatnya, kerjakan SKRIPSI mu!!! Agar orang-orang yang tak lebih pintar matematika dan permainan basketnya darimu itu diam dan merasa konyol karena telah mencibirmu dan menganggapmu ‘rendah’ gara-gara hibernasimu dengan skripsi selama ini.



January 27th, 2010 at 9:43 am
dibalik tulisan ini, dibalik kisah lw ma anto, terselip sebuah kekesalan yang entah itu apa. pokoknya lw yang tau. gw gak tau kalo gak dikasih tau. gak mau tau kalo gak mau dikasih tau. ha ha ha *maksa*
btw, sebagai gambaran hobby kalian itu, maksudnya hobby main basket atau hobby bolos sih??? *lirik lirik rully ma anto*
Buat Anto, Sukses yah
[Balas]
Ceriaselamanyah Reply:
January 27th, 2010 at 9:48 am
ah bang zia.. ngerti aja…
hobby kami ya dua2nya.. bolos kuliah trus ke lapangan basket..
[Balas]
January 28th, 2010 at 7:14 am
Semoga Cepat Selesai Skripsinya..
Kalo Ga selesai nanti kebalap Sama Aku lohh Mbak e… ehehehhe…
hebat Menuliskan Sebuah Kisah nihh si Mbak e.. Fiughhh…. jadi Ngiri..
[Balas]
Ceriaselamanyah Reply:
February 19th, 2010 at 12:54 pm
suwun adek’e…. lak dadi adek seng bener ki yo panggah gagh oleh nyalep2 ngunu wi….
hehhehe
[Balas]
January 28th, 2010 at 8:41 am
Setuju. Skripsi bukan hanya sekedar mendapatkan nilai hasil ujian dan akhirnya menyandang gelar. Jalan penyelesaian itu adalah pembelajaran itu sendiri. Apalagi di usia yang masih dalam bentuk pencarian jati diri, menjadikan tugas skripsi — ujung perjalanan masa kuliah — begitu beratnya. Saya masih ingat bagaimana saya sujud syukur dengan air mata meleleh di pagi hari setelah semalaman tidak tidur ketika menemukan jalan untuk keluar dari terowongan skripsi yang gelap gulita. Nilai A rasanya kurang untuk melukiskan suasana saat itu.
Untuk Anto, ayo semangat!
[Balas]
Ceriaselamanyah Reply:
February 19th, 2010 at 12:54 pm
yo an.. semangat!!!!
[Balas]
March 12th, 2010 at 12:53 pm
ehhhhmmmm….
ini tulisan yg ditinggalkan mySizT saat dy plang dri ng_net di kmrq..
aku uda baca semua siZt…
tnyta, ckup wat ngeluarin air mata.
gtw knapa…tp seakan-akan aku jstru merasa sesuatu yg anh dgn tulisan ini.
maafkan aku, cz g pernah ada niatan membuat seseorang terpuruk.
Buat siter, mgkin km marasa shabat “NDUNDUS” mu jd tdk seperti apa yg km harapkan itu krna ada sedikit kesalahan dari pribadai ku.
makasi atas semua semangatx wat sahabatmu yg sekaligus temenku.
selamat juga, siter uda sidang dan buat anto semangat ketemu skripsimu.
[Balas]