RSS

Mengkomunikasikan Matematika Dalam Jurnalisme

Tue, Sep 29, 2009

....Telur

Bebeberapa tahun yang lalu aku sempat begitu tertarik memasuki dunia juranilistik karena bosan dengan tulisan-tulisan sampahku yang berbilang tahun memenuhi dinding kamar sempit kontrakanku. Ketertarikan yang kurealisasikan dengan sebuah perjuangan memasuki komunitas jurnalis mahasiswa paling prestisius di kampusku. Menjadi bagian dari mereka aku berharap mampu mendapatkan pembelajaran tentang bagaimana menulis sesuatu yang lebih layak dikonsumsi.

Dalam perjalanan, jiwa matematikaku yang eksak seperti acuh pada disiplin ilmu jurnalisme yang sosial itu. Mempelajari keduannya secara bersamaan adalah hal sulit untukku yang notabenenya berkapasitas otak pas-pasan. Ketidaksukaanku membaca yang menjadi point penting dalam belajar jurnalistik semakin membuatku tidak sanggup untuk bertahan. Singkat kata, aku menghentikan prosesku dalam komunitas itu dan memutuskan untuk terus menulis semampuku saja. Namun, terus menulis semampuku saja tetap membuatku tertuntut untuk membaca. Yach, mau tidak mau akhirnya akupun mempunyai satu kebiasaan baru di sela-sela kesibukanku aktif di dunia maya, kebiasaan membaca saudara-saudara !!!

Pernyataan banyak membaca membuat kita semakin bodoh rasanya harus ku imani. Bagaimana tidak kalau gara-gara membaca aku merasa menjadi bodoh setelah menemukan antitesis dari apology kekontradiktifan yang membuatku lari dari jurnalistik. Bahwa ternyata jurnalisme sebagai cabang dari ilmu komunikasi yang berada dalam ranah ilmu sosial itu sesungguhnya adalah penganut kaidah-kaidah matematika yang taat dan menerapkan prinsip-prinsipnya dengan ketat. Sebagaimana matematika, jurnalisme selalu menuntut adanya trasparansi, akuntabilitas, validitas, kepastian fakta dan mengharamkan adanya kekacauan data, ketidakjelasan narasumber, mencampurkan opini dalam reportase serta memalsukan data.

Salah satu teori matematika yang digunakan dalam jurnalisme adalah teori probabilitas atau peluang dimana tujuan dari teori ini adalah untuk mengetahui ‘jarak’ suatu kejadian dari kondisi ideal. Teori peluang didefinisikan sebagai
p = x/s
(dimana p = peluang suatu kejadian, x = banyaknya elemen suatu kejadian, s = banyaknya semua kejadian yang mungkin terjadi). Dari definisi tersebut diperoleh kisaran nilai peluang suatu kejadian adalah antara 0 sampai dengan 1. Nilai peluang 0 untuk kejadian yang mustahil terjadi dan 1 untuk kejadian yang pasti terjadi atau kondisi ideal itu sendiri.

Dalam jurnalisme, kondisi ideal suatu kejadian adalah fakta seakurat mungkin atau keadaan yang sebenar-benarnya. Mendapatkan fakta akurat bukanlah hal mudah karena kebenaran sendiri mempunyai banyak klaim. Ketidakmudahan mendapatkan fakta itu bisa dikarenakan adanya agenda tersembunyi dari narasumber saat wawancara semisal ingin dipuji, ingin mendapat simpati, ingin menyerang pihak lain atau malah menyembunyikan sesuatu. Belum lagi modal pemahaman yang bias pada suatu peristiwa sang wartawan dikarenakan memiliki keyakinan politik, latar belakang budaya dan pendidikan yang berbeda, interes pribadi, kebijakan media tempatnya bernaung serta tekanan dari pihak lain menyebabkan adanya skeptisme pada hasil wawancara. Oleh sebab itu diperlukan suatu metode yang bisa diterima semua pihak untuk mendekati kondisi ideal tersebut. Teori peluang sendiri digunakan untuk mendapatkan fakta dari narasumber karena teori ini dapat mengetahui ‘jarak’ suatu kejadian dari kondisi ideal sebagaimana tujuannya.

Misal kita mewawancarai tokoh A, jumlah kemungkinan jawaban untuk tiap pertanyaan yang diberikan adalah 2, yaitu benar dan salah. Berdasar teori peluang, nilai peluang mendapatkan jawaban benar adalah ½ dan mendapatkan jawaban salah juga ½. Jika seorang wartawan memberikan 10 pertanyaan, dengan rumus
F = n x p
(dimana F = frekuensi harapan suatu kejadian, n = banyak percobaan, p = peluang suatu kejadian), frekuensi harapan mendapatkan jawaban benar hanya 5 jawaban dan 5 sisanya adalah jawaban salah. Karena itulah, narasumber tunggal dalam sebuah reportase jurnalistik tidak dianjurkan. Sebisa mungkin peluang meraih informasi benar bergeser dari selang ½ menuju 1 atau menuju kondisi ideal dengan cara memperbanyak narasumber. Berdasar teori peluang untuk kejadian majemuk, dengan menambah narasumber secara otomatis nilai peluang akan semakin mendekati 1 atau kondisi ideal dengan catatan narasumbernya harus yang kompeten untuk memperkecil terjadinya bias atau kesalahan data.

Ketika kita menggeser nilai peluang, disaat yang sama kita juga harus memperkecil terjadinya bias. Contoh teknik yang digunakan untuk memperkecil bias adalah teknik cek dan ricek, yaitu dengan melakukan pemeriksaan ulang terhadap hasil reportase serta teknik cover both story (liputan dari dua sisi) untuk reportase konflik antara dua pihak. Dalam cover both story, kedua pihak harus diwawancarai dan disajikan dalam reportase yang berimbang serta menghadirkan pihak ketiga yang netral dan layak menjadi narasumber untuk menilai konflik.

Well, demikianlah kaidah matematika bekerja pada disiplin ilmu lain yang sempat membuat saya terheran karena sekian waktu telah berkutat dengannya tanpa pernah tahu manfaatnya. Lebih dari itu semua, ini adalah jawaban kesekian kalinya atas pertanyaan ‘untuk apa belajar matematika?’. So, jangan pernah mengutuk matematika! Siapa tahu apa yang sedang anda geluti sekarang ini bermatematika. Nah lo!!

, ,

This post was written by:

Ceriaselamanyah - who has written 56 posts on Kupu-Kupu Hitam Putih.

karena kata hanya bisa ditulis dan diucapkan, maka tuliskanlah banyak kata yang tak mampu kau ucapkan

Contact the author

5 Comments For This Post

  1. kolojengking Says:

    Wahhh… Aktiis matematika nih ceritanya jeng? He.he.

    Lanjutkan perjuanganmu membumikan ilmu matematika, sobat. Biar semua orang tahu (termasuk saya) bahwa matematika itu banyak manfaatnya… Dan tidak berpikir bahwa matematika itu sulit… He.he.

    Tak pikir-pikir, jenengan ada kesamaannya sama dinda bestari. Kalo suruh ngerjain soal matematika senengnya minta ampun.

    Salam, :)

    [Balas]

    Ceriaselamanyah Reply:

    mosok sie..
    btw, yupz.. mari kita bumikan matematika…

    [Balas]

  2. nakjaDimande Says:

    welcome back rully..!!!

    hmm, kerjaan bundo skrg memang ada matematikanya
    satu mulut terdiri dari 2 rahang, 4 kuadran, 32 gigi.. jadi kalo scaling 4 kuadran biayanya = 4x…, ekstraksi 5 gigi biayanya =5x.. **hus..hus.. dasar drg matreeee..!!!

    lama ga ketemu rully :D

    [Balas]

    Ceriaselamanyah Reply:

    iya neeh… kbanyakan di jalan. jadinya gagh pernah maen kedunia maya lagi….

    [Balas]

  3. Zulhaq Says:

    keren yah, bisa mendalami dunia jurnalistik, dah gitu dikaitkan pula dengan nilai matematika. gw juga pengen banget belajar jurnalistik. tapi kapan yah, kelamaan di hutan sih he2

    [Balas]

    Ceriaselamanyah Reply:

    bukan berarti di hutan gagh bisa belajar kan?

    [Balas]

  4. dinda Says:

    lagi lagi matematika….
    bisa nih mbak ntar tulisan di blog tentang matematika dan kehidupan dibukukan, juduL standarnya “rully aja biLang matematika ngga rumit”. (pLesetane einstein aja ngga tau. eh, tapi jauh yaa) hwehehehehehe….

    btw, maap Lahir batin yaaa mbak :) )

    [Balas]

    Ceriaselamanyah Reply:

    hahahaaaa.. good idea tuh…

    [Balas]

  5. soulharmony Says:

    saya benci matematika

    [Balas]

    Ceriaselamanyah Reply:

    emang enak hidup sama benci? heheh…

    [Balas]

Leave a Reply