RSS

Meniti Hujan Asmara

Thu, Feb 4, 2010

....Telur

Landy sudah membaik dan diperbolehkan pulang. Mendengar berita itu dari perawat kemarin sore membuatku tak menyesal menerobos hujan hanya untuk mengantarkan lalapan dada ayam yang Landy pesan malam sebelumnya. Exited! Itulah perasaan yang kurasakan, ya, laki-laki itu melawan penyakitnya dalam 3 hari saja. Satu hal yang sangat ku kagumi dari adik laki-lakiku itu, semangat hidupnya yang tinggi. Seingatku, 5 bulan lalu dia melawan hepatitis tak lebih dari SN851334seminggu tanpa opname, di kamar kost-kostan pula. Satu setengah tahun yang lalu bahkan dia membuatku terkagum-kagum dengan sikap tegarnya menghadapi kematian sang Ibu, orang yang paling dicintainya. Itulah Landy, yang membawakanku sesisir pisang ambon jauh-jauh dari Jember saat aku terkapar di rumah beberapa bulan lalu.

Mungkin benar kalau kita peka terhadap keadaan sekitar akan banyak sekali hal yang bisa kita ambil manfaatnya. Karena keadaan sekitar kita adalah klu-klu dari Tuhan yang jika kita mampu merangkainya maka akan menjadi jawaban untuk banyak masalah dalam kehidupan. Seperti juga melihat Landy membuatku belajar untuk tetap bersemangat menghadapi semuanya. Sebelum berangkat ke rumah sakit sore kemarin sebenarnya aku sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja karena dosenku itu telah berhasil membuatku menangis tersedu dalam ketegangan yang terjadi hampir sepuluh hari. Melihat Landy membuat otak dan hatiku menerima bahwa dalam hidup ini ada tekanan yang lebih berat daripada tekanan yang kuhadapi saat ini. Bahkan ini belum apa-apa meskipun telah mampu membuatku terkapar tak berdaya. Dan aku masih butuh banyak energi untuk bertahan dan melanjutkan. Jalanku masih panjang dan itu berbanding lurus dengan masalah yang semakin besar. Karenanya aku harus berhemat energi agar bisa sampai di tempat tujuan.

Guyuran hujan yang menemani perjalanan pulangku bersama Luleetha kekasih Landy kemarin terasa dingin namun menyegarkan. Menerobos celah-celah kehidupanku dilipatan ruang dan waktu. Menarik-narik bibirku membentuk sebuah senyuman yang kutujukan untuk diriku sendiri. Senyum tulus pertamaku hari itu. Aku mungkin memang tidak hebat dan tidak lebih baik dari banyak orang. Tapi aku bangga menjalani hidup sebagai diriku. Untuk saat ini setidaknya. Bangga, karena aku mampu tersenyum tulus untuk diriku sendiri.

,

This post was written by:

Ceriaselamanyah - who has written 56 posts on Kupu-Kupu Hitam Putih.

karena kata hanya bisa ditulis dan diucapkan, maka tuliskanlah banyak kata yang tak mampu kau ucapkan

Contact the author

4 Comments For This Post

  1. achoey Says:

    A suka gayamu menuliskannya
    Dahsyat

    [Balas]

    Ceriaselamanyah Reply:

    terimakasih.. hehhe

    [Balas]

  2. inge Says:

    wow…

    yah… belajar dari apa yang orang lain perbuat…
    bukankah begitu indah, eh?

    thx 4 share… :)

    [Balas]

    Ceriaselamanyah Reply:

    he’eh… hehe

    [Balas]

  3. demoffy Says:

    itulah dirimu…
    jaga baik dirimu kawan..;)

    [Balas]

    Ceriaselamanyah Reply:

    terimakasih kawan…

    [Balas]

  4. rizal Says:

    wahh….keren critanya

    [Balas]

    Ceriaselamanyah Reply:

    terimakasih…

    [Balas]

Leave a Reply