RSS

Sandaran Hati, Sebuah Essay

Fri, Jan 15, 2010

...Ulat

Malam ini perasaanku berseteru dengan rintik hujan yang katanya turun bersama berkah dari tuhan kepada umatnya, hujan yang menjadi kurir, hujan yang turun tanpa dipungut bayaran. Malam dan hujan bersekutu mengusap hatiku; perih, menyadarkanku masih ada luka yang sama dibilangan waktu sepanjang seseorang itu ada disana, dihatiku.

Rasa yang terasa semakin berjelaga ketika seorang sahabatku membacakan sebuah wacana tentang dilema percintaan. Dia bercerita kalau salah satu temannya sekarang ini sedang menghadapi satu permasalahan besar dalam cinta. Calon suaminya yang punya kehidupan mapan itu tiba-tiba saja satu matanya buta, berlanjut pada ancaman kebutaan pada mata sebelahnya. Well, status rencana pernikahan itu otomatis pending atau malah cancel (entahlah tadi aku tidak begitu memperhatikannya), setelah terjadi rembug-an dari kedua belah pihak menindaklanjuti penyakit dari si calon suami yang sepertinya akan membuat suram masa depan.

Mungkin bagi sebagian besar orang memang sebuah perkara sulit untuk menjawab “terus” atau “berhenti” ketika dihadapkan pada persoalan macam itu. Sama sulitnya dengan menjawab soal-soal fisika quantum atau struktur aljabar yang sepanjang pengetahuanku dan murni menurutku hanya mampu diselesaikan oleh orang-orang yang “mencintai” fisika dan matematika, bukan orang-orang yang hanya “pintar” fisika dan matematika.

“Seandainya kamu ada diposisi temanku itu, apa yang akan kamu lakukan? Terus atau berhenti?”, sahabatku menanyakan itu padaku diakhir ceritanya. Dengan tegas aku menjawab, terus! Beserta apology macam “Ini masalah perasaaan, dan aku tidak sedang mencari pembenaran atau minta dibenarkan”. Sahabatkupun bilang aku kolot dan tidak memperdulikan orangtuaku dengan pilihan seperti itu. Biarlah, yang pasti aku mengeluarkan statement itu bukan efek dari melototi video klip “Sandaran Hati”-nya Letto, tapi dari hasil kompromi otak dan hati.

Karena aku perempuan. Masalah cinta aku hanya tau mencintai setulus hati dan mengabdi, apalagi untuk seseorang yang telah berbuat “sesuatu” dalam hidupku meskipun itu hanyalah sebuah keputusan untuk menikahiku. Tentang orang tuaku, lirik terakhir dari reff Kucari Jalan Terbaik-nya mbak Yuni Shara akan menjadi alat untukku menghadapi mereka. Dan itulah seninya hidup, dimana kita harus berjuang untuk mendapatkan apa yang kita inginkan selama kita punya keinginan, dengan keyakinan tentunya.

Usai perdebatan kecil di telpon itu aku langsung teringat pada sebuah kejadian bulan lalu di rumah salah satu sahabatku yang lain, yang baru sekali itu aku kunjungi kediamannya di daerah pinggiran kota. Gara-gara antipatiku pada beberapa jenis makanan karena alergi yang membuat orangtuanya bertanya terus-terusan, akhirnya pernyataan aku sakit bronchitis pun keluar. Setelah memberi penjelasan panjang lebar menjawab semua pertanyaan seputar penyakitku, aku harus mendengar final statement dari sang bapak yang ketika aku terjemahkan dalam Bahasa Indonesia kira-kira artinya seperti ini “Punya pacar apa nggak? Kalau punya pacar, jangan bilang-bilang ya kalau kamu punya penyakit, nanti kamu ditinggalkan”.

Sebenarnya aku ingin tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Bagaimana tidak kalau aku lebih memilih untuk tidak pernah mengenal pacar macam “itu” sebelum dia meninggalkanku. Atau kasarannya lebih baik tidak sama sekali daripada hanya untuk duwe-duwean. Tapi aku sadar itu bukanlah tindakan yang seharusnya hingga aku memutuskan untuk menyimpan saja semua sampai saat aku menulis ini, saat aku dibacakan wacana tentang hal yang sama.

Setelah aku dipaksa berumpama menjadi subjek dari kasus itu, untuk kemudian aku disadarkan bahwa nyatanya aku adalah objek. Tragis.

Meninggalkan atau tetap tinggal bagiku hanya sebuah pilihan semacam kita akan lewat jalan yang mana untuk menuju satu tempat, bukan masalah benar atau salah. Suara kebanyakan orang bukan kebenaran mutlak, aku sangat mengamini itu. Karenanya aku tidak mau melumat semua ini dalam kemasan salah atau benar, tapi aku menganggap ini murni sebagai sebuah tindakan memenuhi kebutuhan perasaan seperti halnya kita memilih menu makanan tiap kali kita kelaparan.

Aku ada saat kau dipuja, aku ada saat kau dihina”, satu-satunya hal yang bisa aku janjikan untuk siapapun orang yang aku cintai, terlebih kalau dia mau mencintaiku apa adanya. Dan hatiku berucap janji itu jauh sebelum akau sadar aku adalah seorang manusia pesakitan yang tak banyak orang mau menerima segala kedirianku.

Sapuan rintik hujan malam ini berasa semakin perih ketika kesadaranku sampai pada titik terbaiknya, bahwa yang senyata-nyatanya aku bukanlah subjek dan bukan pula sebagai objek. Aku bukan siapa-siapa. Bahkan lebih berpotensi sebagai objek penderita. Aku tak akan pernah punya pilihan untuk terus atau berhenti. Aku tak akan pernah tau rasanya dipertahankan atau ditinggalkan. Akupun tidak akan pernah ada untuk siapa-siapa dalam percintaan.

Sebenarnya cinta itu masih ada untuk dia yang lebih memilih mengabaikannya tanpa pernah tau seberapa dahsyatnya cinta yang kupunya. Cinta yang kini ingin kuhibahkan pada hujan dan malam agar persekutuan keduanya tak lagi mencipta duka. Cinta yang sudah tak mau lagi aku menumbuhkan harapan atasnya. Biar saja. Aku yakin, sakit ini, cinta ini dan segala sulit ini adalah takdir terbaik dari tuhan untukku. Setidaknya sebagai sebuah bukti bahwa hanyalah DIA sandaran hati terbaik di muka bumi.

Yakinkah ku berdiri

Di hampa tanpa tepi

Bolehkah aku

MendengarMu

Terkubur dalam emosi

Tanpa bisa bersembunyi

Aku dan nafasku

MerindukanMu

Terpuruk ku di sini

Teraniaya sepi

Dan ku tahu pasti

Kau menemani

Dalam hidupku

Kesendirianku

Teringat ku teringat

Pada janjiMu ku terikat

Hanya sekejap ku berdiri

Kulakukan sepenuh hati

Peduli ku peduli

Siang dan malam yang berganti

Sedihku ini tak ada arti

Jika Kaulah sandaran hati

Kaulah sandaran hati

Sandaran hati

Inikah yang Kau mau

Benarkah ini jalanMu

Hanyalah Engkau yang ku tuju

Pegang erat tanganku

Bimbing langkah kakiku

Aku hilang arah

Tanpa hadirMu

Dalam gelapnya

Malam hariku

-Sandaran Hati, by Letto-

, , ,

This post was written by:

Ceriaselamanyah - who has written 56 posts on Kupu-Kupu Hitam Putih.

karena kata hanya bisa ditulis dan diucapkan, maka tuliskanlah banyak kata yang tak mampu kau ucapkan

Contact the author

17 Comments For This Post

  1. senja Says:

    sekali kita mencintai kita akan belajar mencintai kekurangan dan kelebihannya.
    jika tidak …jgn katakan mencintai…

    [Balas]

    Ceriaselamanyah Reply:

    hemmmhhh….

    [Balas]

  2. Andri C Says:

    Cinta itu apa sih…..

    [Balas]

    Ceriaselamanyah Reply:

    cinta itu warnanya ijo ada parutan klapanya. trus kalo dima’em muncrat gula merahnya….
    kasian ya kamu… gagh dapat cium dari saya…

    [Balas]

  3. galihsatria Says:

    Jaman sekarang masih ada ta cinta yang tulus? Kamu bisa bilang begitu karena tidak ada dalam posisi sulit sehingga kamu bisa menakar semuanya dengan prinsip-prinsip yang ideal. Terkadang hidup itu tidak seperti untaian bait-bait puisi yang dilantunkan oleh pujangga yang mungkin ia hanya bisa merasakan sebatas yang ia khayalkan saja.

    [Balas]

    Andri C Reply:

    @galihsatria, Setuju bgt….

    [Balas]

    Ceriaselamanyah Reply:

    @Andri C, hemmmhh

    [Balas]

    Ceriaselamanyah Reply:

    @galihsatria, apa bedanya ssi jaman dulu ma jaman sekarang.. sekapitalis-kapitalisnya zaman sekarang, yang namanya makna cinta itu akan tetap sama. dan disinilah relativitas eistein berlaku. pemaknaan cinta yang berbeda untuk masing2 individu.

    [Balas]

    Dinz Reply:

    Heeeeeehh Cinta Deritanya Tiada Akhir…

    Dutt.. Teori Patkayy.. heheheheh

    [Balas]

    ceriaselamanyah Reply:

    @Dinz,
    woooo iki… kakean nonton kera sakti awakmu yo…..
    arek cilik ki nonton dora ae kunu lho…..

  4. kolojengking Says:

    Pilihan semacam itu memang terasa lebih sulit jika dihadapkan pada kaum hawa. Mereka, konon katanya, menikah bukan cuma mencari sandaran hati tapi juga mencari sandaran hidup. Mencari seseorang yang mampu mengayominya, mencukupi kebutuhannya serta melindungi dari segala mara bahaya.

    Jika bicara cinta, maka memilih untuk meneruskan kisah cinta yang seperti itu adalah sebuah keagungan. Bukti bahwa cinta mereka begitu kuat, bukti bahwa cinta mereka tak bersyarat.

    Namun jika pada akhirnya si wanita memilih untuk mengurungkan niat, saya yakin sebagian orang akan bisa memakluminya. Sama maklumnya ketika seorang wanita memilih menikah dengan seorang pria meski tanpa cinta, bahkan semuanya demi harta…

    [Balas]

    Ceriaselamanyah Reply:

    @kolojengking, setidaknya pendapat satu ini masih bisa saya terima…
    hehe..

    [Balas]

  5. elmoudy Says:

    wah ternyata lo juga penggemar Letto ya… gw juga suka banget ama lagu itu… trasa benar2 ingin bersandar pada Dia.

    melihat cerita itu… memang berat sekali. masalah perasaan, yaap.. gak semudah itu diabaikan. masa depan penting, tapi perasaan terkadang meminta untuk lebih diutamakan, sehingga terasa sangat penting.

    gw juga gak bisa n gak berani kasih pandangan, karena sekali lagi.. perasaan yg berbicara.

    [Balas]

    Ceriaselamanyah Reply:

    @elmoudy, seepppp…

    [Balas]

  6. Lina Says:

    setuju sama Senja.
    kunjungan balik, makasi sudah ke blog saya. sekalian ijin dilink ya. makasiiiiiiiii

    [Balas]

    Ceriaselamanyah Reply:

    @Lina, woke..

    [Balas]

  7. zulhaq Says:

    sandaran yang paling tepat adalah sang pemberi Cinta
    Dia kekal dalam suka dan duka :)

    [Balas]

    Ceriaselamanyah Reply:

    @zulhaq, bener banget bang. lama nie gagh nongol…

    [Balas]

    zulhaq Reply:

    @Ceriaselamanyah, iya euy…lagi banyak bini yang di urus. eh, kerjaan maksutnya he he he

    [Balas]

    Ceriaselamanyah Reply:

    wwwoooo… bang zulhaq mau cari bini?
    makanya sibuk….
    mau cari yang kayak mana bang?

  8. Qie Says:

    nice post… cinta? coba untuk mencintai itu lebih bagos dari pada di cintai lalu di tinggalkan begitu saja (mirip cerita kehidupan sayah)

    [Balas]

    Ceriaselamanyah Reply:

    @Qie, hehe,,,

    [Balas]

  9. fay Says:

    sebab perempuan memang berbeda dengan laki-laki..
    terutama masalah perasaan..

    kalau aku, bagaimanapun kita tidak bisa menjudge sesuatu..
    semuanya tergantung pada keadaan yang sedang menimpa kita, prioritas kita saat itu, sudut pandang kita saat itu, pun perasaan kita saat itu..

    saat ini kita bisa berkata A, tapi mungkin jika besok keadaan sudah berubah, mungkin kita akan berfikir bahwa B lebih tepat..

    apapun itu, minumnya es teh manis saja.. hehe..:D

    miz u sist..;)

    [Balas]

    Ceriaselamanyah Reply:

    @fay, seeep fay…
    miz u too..

    [Balas]

  10. and1k Says:

    setuju ama yang diatas

    [Balas]

    Ceriaselamanyah Reply:

    @and1k, yuuukkk mari..

    [Balas]

  11. muamdisini Says:

    maaf baru sempat mampir lagi…

    tak sanggup berkata-kata, kejadiannya hampir mirip dengan apa yang kualami, hanya saja subjeknya dipindahkan ke pihak wanita dan aku harus menjadi pihak yang memberikan jawaban terus atau tidak….
    jawabannya pun sama…”terus”…
    kaena ku yakin, ketika hati telah menetapkan untuk memilih, tak ada alasan untuk berpaling…
    aku yakin hidup itu sebuah pilihan…

    Yakinlah…Dia akan mengirimkan sosok cinta sejati…
    aku percaya cinta sejati itu masih ada, meski banyak diantara kita yang skeptis….

    terus berjuang yah…

    [Balas]

    Ceriaselamanyah Reply:

    @muamdisini, terimakasih…

    [Balas]

  12. thunderhorse Says:

    “sejak dulu.. memang beginilah cinta.. deritanya tiada tara…”

    – karya Ti Pat Kai –

    [Balas]

    Ceriaselamanyah Reply:

    @thunderhorse, hahhahhahahhahhah…
    kenal ti pat kai juga ni mas arya…

    [Balas]

  13. Rizal Says:

    Xixixi… si Bapak lucu juga yach, “Kalau memiliki PACAR, tentang penyakitnya JANGAN DIKASIH TAU…”

    Sekalipun tidak menyenangkan, JUJUR tetap lebih baik. Dengan KEJUJURAN, maka kita menjadi tau… seberapa besar seseorang itu TULUS ingin bersama dengan kita dan menerima kita apa adanya.

    Jangan sampai MANIS DIDEPAN PAHIT DIBELAKANG lah…

    Dia menerima kita… Karena memang dia IKHLAS menerima kita dengan apapun keadaan diri kita…

    Sama halnya kisah utama di artikel ini… Tentang sebuah ‘peristiwa’ yang mengancam ‘masa depan’ si pria…

    Hukum HIDUP ADALAH PILIHAN berlaku disini… dan tentu saja harus di pilih secara bijak…

    Bagi si wanita… jika dia memilih TERUS dengan si Pria… tentu dia sudah SIAP dan TAU PASTI dengan segala konsekuensi PILIHANNYA…

    Jangan sampai nanti, seandainya HIDUP MEREKA ternyata -sebut saja- SUSAH… si wanita ini kemudian MENGELUH TERUS MENERUS, MENYALAHKAN NASIB, MENYALAHKAN SI PRIA, MERASA MENYESAL TELAH MENIKAHI SI PRIA… dsb…

    Ingat… INI adalah PILIHAN HIDUP nya… TERIMA SETIAP KONSEKUENSI nya dengan IKHLAS…

    Jujur… saya banyak banget sudah bertemu dengan wanita – wanita yang seperti ini. Menikahi seorang PRIA dengan alasan CINTA… dan setelah beberapa tahun kemudian, baru mereka MENYESALI PILIHANNYA…

    Rumah tangganya berantakan, mengeluhkan terus menerus perihal suaminya, bahkan ada juga yang menyumpahi si suaminya…

    Tentu saja KITA BERHARAP yang terbaik lah… kita berharap si Pria sembuh dari sakit nya, dan hidup keduanya berjalan sebagaimana yang di harapkan…

    [Balas]

    Ceriaselamanyah Reply:

    hahahaa.. ia..

    [Balas]

  14. ian Says:

    masih saja terpana dengan sebuah puisi–cos sampe sekarang belum bisa buat curahan hati yang indah :D

    [Balas]

    Ceriaselamanyah Reply:

    hehe.. jangan takut mencoba.. biar awalnya agg bagus.. pasti lama kelamaan bisa indah. proses..

    [Balas]

  15. sang pelembut hati Says:

    salam
    sudah lama tidak mampir ke blog sahabat. bagaimana kabarnya? kayaknya masih semangat untuk menulis. kata-kata yang indah untuk mengawali sebuah essay.

    [Balas]

    Ceriaselamanyah Reply:

    @sang pelembut hati, hehe..
    terimakasih…..
    lagi belajar kok nulis essay.. tapi gag tau itu apa bisa disebut essay…

    [Balas]

  16. elmoudy Says:

    kenapa lagi Cee..
    lo lg sibuk ato males ?

    [Balas]

    Ceriaselamanyah Reply:

    lagi sibuk nie.. mau ngurusi penyelesaian tugas akhir… hehehhe..

    [Balas]

  17. liya Says:

    Judul yg sama yg pernah aq tulis.. dan sama2 terinspirasi dr lagu letto..

    [Balas]

    Ceriaselamanyah Reply:

    tapi aku nulis dulu baru tak sambungin ma lagunya letto.. hehehe…

    [Balas]

Leave a Reply